Tampilkan postingan dengan label pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 April 2010

kolom sentilan : "RUTAN KHUSUS KORUPTOR"


untuk sementara judul diatas akan dijadikan tempat untuk menampung tulisan-tulisan singkat. Tulisan yang idenya muncul tiba-tiba dan harus direalisasikan segera. Tulisan yang tidak perlu waktu banyak untuk membacanya tapi menarik untuk dikomentari.

RUTAN KHUSUS KORUPTOR

memang 'menyenangkan' bisa menjadi seorang koruptor di negeri ini, betapa tidak karena kemarin 27 April 2010, Pemerintah melalui MENKUM & HAM - Patrialis Akbar meresmikan Rumah Tahanan Negara Klas I khusus tindak pidana korupsi di Lapas Cipinang, Jakarta. Dan ini merupakan RUTAN khusus bagi koruptor di Indonesia dengan rencana bangunan 3 lantai. Kita boleh berprasangka bahwa di rutan ini fasilitas bagi para narapidananya pasti sangat berbeda-lha wong isinya koruptor yang udah maling duitnya rakyat negara ini, masak iya kita bisa percaya rutan tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan perlakuan dan fasilitas khusus bagi para tahanan korupsi, seperti ungkapan Patrialis Akbar(MENKUM&HAM) : " Yah, paling dikasih sebuah TV, itu juga buat rame-rame biar mereka tidak terisolasi." bagaimana menurut anda?

surabaya, 28 january 2010

SOE HOK GIE yang aku tahu


Tadinya judul yang akan kubuat adalah Soe Hok Gie yang aku kenal tetapi rasanya kok mengada-ada secara Hok Gie telah meninggal jauh sebelum aku dilahirkan. Maka jadilah Soe Hok Gie yang aku tahu menjadi lebih terasa enak buatku.

‘perkenalan’ ku dengan sosok Hok Gie sekitar tahun 1996 tidak lama setelah aku keluar dari penjara ketika seorang sahabat meminjami ku buku Catatan Seorang Demonstran (CSD), saat itu aku sama sekali tidak tahu siapa sosok Hok Gie (yang menurutku sangat wajar karena aku dibesarkan di era 80-90an). Yang aku ingat, pertama membuka buku tersebut adalah melihat sudah cetakan keberapa buku terbitan LP3ES tsersebut dan ketika itu kalau tidak salah sudah cetakan yang kesekian belas yang berarti bahwa buku ini laris manis seperti kacang rebus.

Baru sejak itu buku demi buku tentang Hok Gie aku cari, beli, dan baca. Sosok Hok Gie adalah sosok yang luar biasa bagiku, seorang nasionalis tulen walaupun keturunan Tionghoa. Rasanya aku belum menemukan sosok seperti dia sebelumnya dan hal tersebut membuatku ‘merasa iri’ dan menertawakan diriku sendiri ; “kemana aja lo disaat seumuran Hok Gie.” Ketika Hok Gie masih belasan tahun mungkin dia sudah membaca romeo & yuliet sementara aku berkutat dengan lima sekawan-enid blyton atau tiga sekawan-alfred hitchock, ketika Hok Gie menulis buku hariannya diumur 15 tahun yang berisi tumpahan kekesalannya karena nilainya dikurangin 3 pada pelajaran sejarah sementara seusianya aku malah belum pernah menulis buku harian.

Bagi orang-orang yang merasa terusik oleh tulisan-tulisannya serta kegiatannya menjadi ketika mahasiswa FSUI era 60-an, sosok Hok Gie akan dianggap pemberontak dan tukang bikin onar, tetapi menurutku sosok Hok Gie adalah sosok yang jujur melihat keadaan sekitarnya dengan apa adanya. Tulisan-tulisannya dibeberapa media ketika itu seperti kompas, sinar harapan, indonesia raya sangat-sangat kritis, tajam, berani, dan lugas. Demikian juga dengan kegiatan-kegiatan demonstrasinya terhadap pemerintahan Soekarno ketika itu. Tetapi dibalik semua itu, Hok Gie sebenarnya sosok yang suka merenung dimana hal ini ditunjukkan dengan kesenangannya mendaki gunung yang kemudian mengantarkan ajalnya di puncak Semeru pada 16 desember 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27 tahun.

Seingatku, buku Catatan Seorang Demonstran yang merupakan buku harian Hok Gie sempat menjadi ‘bacaan wajib’ para mahasiswa ketika berlangsung era reformasi yang menumbangkan rezim Soeharto. Hanya saja kemudian tidak ada yang bisa sekaliber Hok Gie. Apa yang terjadi kemudian setelah era reformasi adalah hal yang sama di rasakan oleh Hok Gie, ketika rekan-rekan mahasiswa perjuangannya menumbangkan Soekarno dan kemudian berada dilingkup pemerintahan Soeharto, maka para mantan mahasiswa tersebut seolah lupa dengan perjuangan mereka untuk rakyat banyak dan terlena oleh kekuasaan yang mereka nikmati. Sampai kemudian Hok Gie beserta teman-temannya mengirimkan ‘paket’ berisi bedak, gincu, cermin,jarum, benang untuk para 13 perwakilan mahasiswa yang berada di DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong) disertai sebuah surat yang intinya ungkapan sindiran terhadap perwakilan mahasiswa di DPR-GR tersebut.
“Yang Terhormat, kami mahasiswa universitas di Jakarta, dengan penuh rasa hormat bersama ini kirimkan kepada anda, “perwakilan mahasiswa” di DPR-GR. Paket Lebaran dan Natal. Dalam suasana Lebaran dan Natal ini kami menghormati perjuangn yang telah kalian lakukan selama bertahun-tahun dilembaga ‘perwakilan’ rakyat ini. Kondisi demokrasi Indonesia dan rule of The Law saat ini jelas merupakan hasil dari perjuan kalian semua, mahasiswa yang tak kenal ampun dan tak terkalahkan, yang tidak kenal menyerah, dan tidak kenal kompromi dengan apa yang benar! Bersama surat ini kami kirimkan kepada anda, saudara kami yang terhormat, yang dapat membuat diri kalian lebih menarik dimata penguasa dan rekan-rekan sejawat anda di DPR-GR. Bekerjalah dengan baik, Hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi anda tidurlah nenyak!”

Secara pribadi aku sangat setuju dengan Hok Gie mengenai belajarlah pada sejarah, karena dengan mengetahui sejarah kita tentunya kita akan melangkah lebih hati-hati demi kemajuan bangsa Indonesia ini. Karena seperti kata pepatah ‘pengalaman adalah sebuah guru yang baik’ dan bukankah pengalaman itu sendiri adalah sebuah sejarah ? Tulisan-tulisan Hok Gie masih relevan untuk dibaca dan dijadikan pembelajaran bagi kita semua terutama generasi muda saat ini. Tulisan-tulisannya layak untuk direnungi lagi. Hanya saja aku yakin tidak banyak dari generasi saat ini yang mengetahui sosok Soe Hok Gie. Sosok yang menganggap dengan mendaki gunung maka seseorang baru akan dapat lebih mencintai negerinya dan mengetahui kehidupan ‘rakyat sebenarnya’ di pedesaaan dan pegunungan karena akan saling berinteraksi.

Sudah lebih dari 40 tahun sejak kematiannya tetapi pada banyak orang (termasuk aku) yang mengetahui sosoknya, maka Soe Hok Gie adalah sebuah legenda. Semoga tulisan-tulisan Hok Gie dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua dan generasi selanjutnya.

Surabaya 14 february 2010 tulisan ini dibuat setelah membaca : SOE HOK-GIE..sekali lagi cetakan ke dua January 2010

AYAH KU PAHLAWAN KU


Dengan Menyebut Nama Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Entah mengapa tiba-tiba berkelebat segala kenanganku tentang Almarhum Ayahku (semoga Allah melapangkan kuburnya). Beliau yang berasal dari kota Tegal di Jawa Tengah merantau ke Surabaya dan akhirnya bertemu dengan Ibuku yang berasal dari Jenar (sebuah desa didaerah Purworejo-Jawa Tengah). Almarhum ayahku adalah anak bungsu sedangkan ibuku adalah anak sulung. Dari cerita-cerita om dan tanteku (adik-adik ibuku), ayahku sepertinya pemuda dengan banyak akal kala itu, ketika mereka sedang berpacaran. Om ku bercerita, karena almarhum kakekku (orang tua ibuku – semoga Allah melapangkan kuburnya) adalah seorang angkatan laut maka terdapat pembatasan jam berkunjung bagi ayahku saat malam minggu, saat jam menunjukkan pukul 21.00 maka ayahku harus pamit, tetapi ketika itu setiap kali berkunjung, ayahku diam-diam akan mengambil jam dinding di ruang tamu kakekku (kala itu jam hanya ada satu di setiap rumah) dan memundurkan waktunya satu jam lebih lama sehingga ketika ayahku berpamitan pada jam 21.00, sebenarnya sudah jam 22.00. Sementara tanteku bercerita, supaya saat berkunjungnya ayahku kerumah kakekku tidak diganggu oleh adik-adik ibuku yang kala itu masih kecil-kecil maka ayahku akan memanggil adik-adik ibuku dan menyuruh mereka untuk membeli rujak dengan pesanan yang satu pakai cabe dua setengah, yang satu cabe tiga, yang satu tidak pake nanas, yang satu tidak pakai timun, dan lain sebagainya yang cukup membingungkan bagi anak kecil untuk mengingatnya. Walhasil, malam minggu mereka berlangsung tenang tanpa gangguan adik-adik ibuku disekitarnya.

Sosok ayahku adalah tinggi besar dengan kulit gelap dan rambut ikal, hal ini menyebabkan beberapa temanku mengira ayahku berasal dari Indonesia Timur. Beliau perokok berat dan baru berhenti ketika ginjalnya diangkat satu. Ayahku sosok yang sangat berwibawa bagi anak-anaknya (bahkan ditakuti), jika anak-anaknya ribut dirumah, beliau cukup berdehem saja, maka kami anak-anaknya akan langsung diam teratur. Aku adalah anak bungsu dari 5 (lima) bersaudara dan kami berlima dilahirkan di Surabaya. Beberapa yang dapat kuingat : ketika aku mulai belajar berjalan, ketika itu ayahku sedang dinas keluar kota dan ibuku dengan kakak perempuanku mengajariku berjalan sendiri. Dan ketika ayahku pulang dari tugasnya, aku dibiarkan berjalan menyambut kedatangan ayahku di teras rumah di Surabaya. Dan kebiasaan menyambut kedatangan ayahku dari kantor diteras rumah ketika sore hari juga kulakukan ketika aku di Semarang antara 1974 – 1977. Aku juga masih ingat ketika beliau membawakan mainan seekor ayam yang bisa berbunyi petok-petok dan mengeluarkan telur ketika beliau pulang naik haji ketika aku masih sangat kecil. Ayahku sangat terpukul ketika abangku yang nomer 3 (tiga) meninggal dunia karena terkena gigitan ular laut di pantai didaerah pemalang atau pekalongan (?). Saat itu tahun 1977 dan aku baru berumur 5 (lima) tahun, almarhum abangku (semoga Allah melapangkan kuburnya) ketika itu sedang berlibur dirumah pamanku dan diajak berwisata ke pantai dan ketika sedang bermain dipantai itulah tangannya digigit seekor ulat laut yang berada dipantai. Aku melihat bagaimana ketika ayahku sampai ke rumah pamanku dan melihat anakknya telah terbujur kaku kemudian melampiaskan emosinya dengan memukul pintu rumah dan mengakibatkan pegangan/handlenya jebol seketika. Tidak lama setelah kematian abangku, ayahku pindah dinas ke biak-irian jaya (sekitar 1977). Ayahku adalah penggemar burung, beliau senang memelihara berbagai jenis burung (cucak rawa, nuri, kutilang, kakaktua, jalak, dsbnya). Ketika di Biak kala itu ayahku masih punya senapan berburu dan suatu ketika seekor kakak tua peliharaan ayahku tiba-tiba menggigit jarinya saat diberi makan maka spontan ayahku mengambil senapannya dan menembak mati burung kakak tua tersebut. Meskipun ayahku terlihat galak dan sibuk dengan pekerjaannya tetapi beliau tetap mengajak kami anak-anaknya untuk bepergian bersama, ketika di Biak kami kerap diajak piknik, yang aku masih ingat adalah kepantai bosnit (?) dan gua jepang.

Kemudian ayah dipindah tugas lagi ke Makassar, disana pun kami kerap bepergian, salah satunya yang aku masih ingat adalah ke Bantimurung. Ketika di Makassar aku masih kelas 1 (satu) SD dan aku ingat ketika itu musim skateboard maka tak lupa pula ayahku membelikan skateboard, selain itu kalau tidak salah di hari ulang tahunku ayahku membelikanku sebuah drum set untuk anak-anak.
Setelah itu ayahku pindah tugas ke Jakarta, kami tinggal di komplek perumahan Garuda Indonesia di Muara Karang – Jakarta Utara. Karena ayahku penggemar olah raga tinju (beliau menyukai gaya bertinju Muhammad Ali dan Mike Tyson) maka akupun diajarinya teknik bertinju sambil memakai sarung tinju yang dibelikannya. Apa itu hook, uppercut sudah diajarkan padaku sejak kecil. Ayahku mengajari untuk memilih memukul perut, dagu, atau muka jika menghadapi lawan. Walhasil kala itu aku pernah berkelahi dan meninju muka lawanku sampai hidungnya berdarah-darah dan aku langsung lari pulang dan ketika ayahku tahu kejadian tersebut, beliau cuma tersenyum saja. Pada saat aku berulang tahun (kalau tidak salah ketika kelas 2 (dua) SD) aku diberi hadiah buku “Dongeng sang Angsa” dengan tulisan selamat ulang tahun dan tanda tangan ayahku di sampulnya, sayang buku tersebut sudah tidak dapat aku temukan lagi. Karena aku suka membaca dari kecil, ayahku tidak sungkan untuk membelikanku buku-buku cerita, mulai dari kisah-kisah ciptaan HC Andersen, RA Kosasih, SH Mintaradja, dsbnya. Saking banyaknya bukuku kala itu sampai aku sewakan ke teman-temanku, satu buku dibaca sampai selesai cuma Rp. 25,- saja ongkos sewanya. Lumayan untuk menambah uang jajan. Ketika SD diJakarta aku pernah rame-rame dengan teman sebaya menonton film porno di rumah temanku yang punya video player, dan entah bagaimana orang tua kami mengetahuinya juga, hasilnya masing-masing di marahi oleh orang tuanya, termasuk aku yang di marahi oleh ayahku habis-habisan, tetapi yang aku salut, aku tidak pernah dimarahi dengan tangan atau penggaris oleh ayahku sejak dulu, berbeda dengan teman-temanku. Oleh sebab itu akupun tidak akan mau (Insya Allah) memukul kedua anakku jika mereka berbuat salah atau nakal.

Ketika aku naik kelas 6 (enam) SD, ayahku pindah tugas ke Medan, di sana pun kami kerap ke Brastagi, Danau Toba, Pulau Samosir. Aku ingat ketika ke Brastagi, aku melihat penjual anak anjing dan aku dikabulkan untuk membeli dan memeliharanya meskipun kami keluarga Muslim, anjing itu aku beri nama Bruno dan seekor anjing yang sangat setia karena Bruno akan menungguku di pintu gerbang rumah pada jam aku pulang sekolah dan akan dengan sabar menungguku selesai makan siang untuk kemudian aku ajak bermain-main di halaman rumah yang sangat luas kala itu (karena rumah yang kami tempati adalah rumah jaman belanda di jalan sultan iskandar muda no. 47, Medan). Sayangnya Bruno akhirnya mati karena terlindas mobil yang lewat di jalan depan rumah dan sejak itu aku tidak mau memelihara anjing lagi. Ayahku diam-diam juga seorang pemahat yang handal, waktu luangnya di Medan suka dihabiskannya dengan memahat kayu dari pohon yang telah mati di halaman rumah untuk kemudian dijadikannya patung, selain itu beliau juga penyuka fotografi. Beliau suka memphoto keluarga dan dengan rapi menyimpannya di album photo (sampai sekarang aku masih mempunyai koleksi photo ku dari aku bayi sampai dewasa).

Naik kelas 3 (tiga) SMP, ayahku dipindah tugas ke Jakarta lagi, dan kami tinggal di komplek yang sama. Ketika SMP, setiap pagi ayahku akan mengantar aku kesekolah terlebih dahulu sebelum pergi kekantornya di bandara Soekarno Hatta. Padahal sekolahku di Jakarta Barat dan berarti beliau harus mutar balik lagi untuk menuju kantornya. Pernah suatu malam aku diajak ayahku untuk kekantornya untuk mengambil pekerjaannya yang tertinggal dan saat melewati jalan tol menuju bandara (yang ketika itu masih sangat sepi), tiba-tiba aku berteriak sambil bertanya karena melihat “sesuatu” melintas disamping mobil yang kami kendarai dari arah depan. Dan dengan tenang ayahku cuma tersenyum dan berkata itu bukan apa-apa sampai kemudian setelah dewasa aku menyadari yang aku lihat itu adalah kuntilanak yang terbang melintas.

Kemudian ayahku dipindah tugas lagi ke Pontianak, ketika itu aku lulus SMP dan kemudian melanjutkan SMA ku di sana. Di Pontianak karena aku memasuki masa remaja maka aku merasakan tidak begitu dekat dengan beliau, mungkin karena masa-masa itu sifat pemberontak seorang remaja mulai muncul. Tetapi meskipun begitu ketika aku meminta dibelikan model motor yang paling baru keluar (ketika itu Yamaha RX-Z baru di release nasional), akupun dibelikannya, walhasil akulah pertama kali murid sekolah satu SMA tersebut yang pertama kali memakai motor tersebut. Pernah ketika SMA aku diam-diam memakai mobil ayahku tanpa ijin dan mengakibatkan lampu belakangnya pecah karena aku mundur menabrak pohon, dan aku diam saja tidak mengakuinya, dan berakibat supir ayahku yang bernama pak Supri dimarahin oleh ayahku. (maafkan saya ya, Pak Supri). Rupanya diam-diam ayahku selalu mengetahui sepak terjangku disekolah, melalui guru-guru disekolahku, karena ketika itu beberapa guru jika akan bepergian naik pesawat akan menghubungi ayahku untuk mendapat discount. Itu sebabnya ayahku selalu tahu jika aku berantem disekolah, membolos, atau nilai ulanganku jelek. Aku yakin beliau juga tahu kebohonganku ketika aku rame-rame mengajak teman-teman sekelas untuk membolos dan berkumpul dirumah, sementara dirumah aku beralasan bahwa guru-guru rapat jadi kami dipulangkan (khan semua teman-temanku ikut kerumah). Ketika SMA aku tertarik dunia DJ (disc Jockey), dan ayahku pun membelikan seperangkat turntable merk technics serta mixer merk numarx – standar perlengkapan DJ kala itu, dan aku juga disuruh belajar DJ dengan mas emonk (dimana dia sekarang ya?) melalui pemilik sebuah hotel dan diskotik dikota Pontianak yang teman ayahku. Ketertarikanku yang kudapat dari ayahku adalah dunia Photography dan Video shooting, ketika itu ayahku mengajariku bagaimana memotret dan menshoot video sebuah acara, dan akhirnya setiap ada acara di kantor ayahku ataupun di sekolah, aku selalu membawa peralatan tersebut. Ketertarikanku pada dunia sinematografi (photo&video) semakin menjadi-jadi yang mengakibatkan aku berkeinginan untuk melanjutkan kuliah kelak di IKJ (institut kesenian jakarta) untuk memperdalam sinematografi, tetapi niat ini tidak direstui oleh ayahku, yang berakibat aku pergi ke yogyakarta dengan penuh kekecewaan dan akhirnya kuliah di universitas atmajaya di fakultas hukum (1991), tetapi kemudian ketika ISI (institut seni indonesia) pada tahun 1994 membuka fakultas baru dengan nama FSMR (fakultas seni media rekam) dengan 2 (dua) jurusan kala itu yaitu Photography serta Televisi, aku nekad mendaftar dan diterima di jurusan Photography. Baru ketika sudah diterima aku lapor ke ayahku bahwa aku sekarang kuliah di 2 (dua) tempat, dan beliau setuju saja. Ayahku kala itu tidak suka rambutku gondrong dengan 4 (empat) anting-anting ditelinga kiri dan 3 (tiga) anting-anting ditelinga kanan. Karena kedua abangku saat kuliah tidak ada yang berpenampilan seperti itu. Hasilnya setiap kali aku pulang liburan kuliah selalu tidak disapa oleh beliau dirumah. Meskipun aku sejak SMA sudah mengenal rokok tetapi sampai kuliahpun aku belum berani merokok didepan ayahku, dan ketika kakak perempuanku menikah di pontianak, kala itu ketika membantu mempersiapkan segala sesuatunya tiba-tiba ayahku mempersilahkan aku jika aku mau merokok didepannya, sebuah kejutan bagiku. Dan akhirnya aku mulai menunjukkan bahwa aku perokok sementara kedua abangku dari dulu sampai sekarang tidak ada yang merokok.
Ketika ayahku kemudian pensiun ditahun 1995, beliau memutuskan menghabiskan masa pensiunnya di kota Tegal bersama ibuku. Dan aku kerap pulang ke Tegal karena jarak Jogja – Tegal hanya sekitar 4-5 jam perjalanan mobil. Peristiwa yang tidak akan pernah aku lupakan adalah ketika suatu saat di blan July 1995 aku pulang ke Tegal dan bertemu beliau, ayahku terlihat sangat akrab denganku, kami seperti dua orang sahabat bukan ayah-anak, bahkan ketika berjalan bersama pun beliau melingkarkan tangannya ke bahuku sambil bercerita dan tertawa-tawa. Sampai pada saat pulang ke jogja bersama kakak angkatku almarhum mas Supran (semoga Allah melapangkan kuburnya), aku bahkan mengucapkan keherananku atas kelakuan dan sikap ayahku yang sangat-sangat akrab tidak seperti biasanya kepada mas Supran. Dan tepat 2 (dua) minggu kemudian di Jogja pada tanggal 11 July 1995 aku mendapat telphone yang mengabarkan bahwa Ayahku meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung selepas beliau makan siang. Setelah mendapat khabar tersebut aku menangis sejadi-jadinya dan seingatku itulah tangisku terhebat yang pernah aku alami sampai saat ini.

Selama perjalanan hidup ini, ada beberapa petuah ayahku yang masih terngiang ditelingaku :
- Jangan pernah takut untuk mencoba suatu hal yang baru dalam hidup untuk kehidupanmu kelak.
- Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab dalam menafkahi keluargamu kelak, berilah anak-istrimu kelak dari rejeki yang halal.
- Jangan pernah main tangan terhadap istrimu kelak, karena sekali engkau melakukannya maka seterusnya engkau akan ringan tangan.
- Carilah teman sebanyak-banyaknya.
- Tidak mempercayai akan suatu hal sebelum membuktikannya sendiri.
Sepertinya itu semua yang berhasil aku ingat tentang ayahku. Ya Allah, ampunilah segala kesalahan beliau selama hidup didunia baik yang disengaja maupun tidak, Ya Allah terimalah segala amal ibadah beliau sekecil apapun selama didunia ini, Ya Allah lapangkanlah kuburnya serta jauhkanlah beliau dari siksa kubur dan siksa api neraka kelak, Ya Allah berilah beliau Syurgamu kelak. Amin Ya Robbal Allamin.

(lega rasanya sudah menuangkan segala kenangan akan almarhum ayahku, meskipun masih sangat-sangat banyak kenangan yang belum berhasil aku ingat saat ini).

Selasa, 05 Mei 2009

Resep Obat Penyembuh Dosa

Seorang badui datang pada seorang dokter.
Orang badui itu bertanya."Apakah dokter punya resep obat untuk menyembuhkan penyakit dosa?" Dokter menundukkan kepalanya sejenak sambil berpikir lalu menjawab,
"Dengarkan resep ini. Jika kamu kerjakan maka kamu dapat penyembuhan dari Allah".

Ambillah AKAR-AKAR KEMELARATANmu dan JIWA KESABARAN...
Lalu campurkan dengan BUBUK PIKIRAN, dan dicampur (kadarnya sama) dengan RENDAH HATI dan KEKHUSYYUKAN, kemudian ditumbuk semua dalam lumpang TAUBAT dan dibasahi dengan AIR MATA, lalu ditempatkan dalam tempat RENDAH DIRI kepada Allah dan dimasak dengan api TAWAKKAL kepadanya.

Setelah itu aduk dengan sendok ISTIGHFAR sehingga tampak TAUFIQ dan KEHORMATAN DIRI.
Kemudian , pindahkan kemangkok CINTA dan dinginkan dengan udara KASIH SAYANG.
Sesudah disaring dengan saringan KESUSAHAN dan ditambah dengan hakikat IMAN serta campurkan dengan TAKUT kepada Allah.
Terus minum obat itu SELAMA HIDUPMU dan HATIMU akan SEMBUH dari segala keluhan dan akan hilang rasa sakit dan dosa.

(Oleh ELVI ZUHAILINA @ Discussion Board)

BELAJAR (Oleh Kamila Vyndarti)

Sesuatu yang Baik, BELUM TENTU Benar.
Sesuatu yang Benar, BELUM TENTU Baik.
Sesuatu yang Bagus, BELUM TENTU Berharga.
Sesuatu yang Berharga/Berguna, BELUM TENTU Bagus.

PIKIRAN dan MULUT Merupakan Suatu Kombinasi.
Semakin Banyak kita Berbicara Tentang DIRI SENDIRI,
Semakin Banyak pula Kemungkinan Kita untuk BERBOHONG.
Jika kita Tidak Bisa menjadi Orang Pandai, JADILAH ORANG YANG BAIK.

LIDAH kita yang Menentukan SIAPA KITA.
Jika Kejahatan di balas Kejahatan, maka itu adalah DENDAM.
Jika Kebaikan dibalas Kebaikan itu adalah PERKARA BIASA.
Jika Kebaikan dibalas Kejahatan, itu adalah ZALIM.
Tapi jika Kejahatan dibalas Kebaikan, itu adalah MULIA dan TERPUJI.

Sesungguhnya sebagian Perkataan Itu Ada yang Lebih Keras dari Batu,
Lebih TAJAM dari Tusukan JARUM,
Lebih PAHIT daripada JADAM dan Lebih PANAS daripada BARA.
Sesungguhnya HATI adalah LADANG,
maka Tanamlah Ia dengan Perkataan yang Baik, karena
jika Tidak Tumbuh Semuanya (Perkataan yang Tidak Baik)
niscaya TUMBUH sebagiannya.

Nasihat yang Baik Tidak Pernah Datang Terlambat.

IRI HATI yang Ditunjukan kepada Seseorang akan MELUKAI DIRI SENDIRI.
Kita Cuma Bisa HIDUP SEKALI SAJA DI DUNIA,
tetapi jika kita Hidup dengan Benar, Sekali Saja Sudah CUKUP.

Jika kita Tidak Memulai Hari Ini dengan Senyuman,
Belum Terlambat untuk Mencobanya Pada Hari Esok.

Seorang TEMAN SEJATI Akan Membuat kita Hangat dengan KEHADIRANNYA,
MEMPERCAYAI akan Rahasianya dan MENGINGAT kita dalam DOA-doanya.
Doa Memberikan KEKUATAN pada Orang yang LEMAH,
MEMBUAT Orang Tidak Percaya Menjadi Percaya dan
MEMBERIKAN Keberanian pada Orang yang KETAKUTAN.
Jika kita berbuat Baik, Kebaikan pula yang Akan Kita Terima Kelak.

PERSAHABATAN SEJATI Layaknya KESEHATAN,
Nilainya Baru kita SADARI Setelah kita KEHILANGANNYA.
Seorang Sahabat adalah yang Dapat MENDENGARKAN "Lagu" di dalam HATI kita
dan Akan MENYANYIKAN Kembali tatkala kita Lupa akan Bait-baitnya.
Bertemanlah dengan Orang yang Suka akan KEBENARAN.
Dialah HIASAN Dikala Kita Senang dan Perisai diwaktu kita Susah.

Namun kita Tidak Akan Pernah Memiliki seorang Teman,
jika kita Mengharapkan Seseorang tanpa Kesalahan.
Karena Semua Manusia itu Baik,
kalau kita Bisa MELIHAT KEBAIKANNYA dan MENYENANGKAN kalau
kita bisa Melihat KEUNIKANNYA,
tapi Semua Manusia itu Akan BURUK dan MEMBOSANKAN kalau
kita TIDAK BISA MELIHAT KEDUANYA.

Kenangan Indah Masa Lalu HANYA untuk DiKENANG, Bukan untuk diINGAT-ingat.
Rasa TAKUT Bukanlah Untuk diNIKMATI, tetapi Untuk diHADAPI.
Orang Bijaksana Selalu MELENGKAPI KEHIDUPANNYA Dengan Banyak PERSAHABATAN.

Hiduplah Sesuka Hati kita, Sesungguhnya kita Pasti Mati.

Cintai siapa saja yang kita senangi,
sesungguhnya kita pasti akan berpisah dengannya.

Lakukan apa saja yang kita kehendaki,
sesungguhnya kita akan memperoleh balasannya.

KEMARAHAN Hanyalah Satu Kata yang Dekat dengan BAHAYA.

Pikiran yang Besar Membicarakan Ide-ide ;
Pikiran yang Rata-rata Membicarakan Kejadian-kejadian ;
Dan Pikiran yang Kerdil Membicarakan Orang-orang.

Tak Seorang pun Sempurna tetapi Manusia adalah Mahluk yang Paling Sempurna.
Mereka yang Mau BELAJAR dari KESALAHAN adalah BIJAK.
Menyedihkan Melihat Orang Berkeras bahwa
mereka benar meskipun Terbukti Salah.

Bila kita Mengisi Hati kita dengan PENYESALAN untuk MASA LALU dan
Kekhawatiran untuk Masa Depan, kita Tak Memiliki hari ini untuk kita Syukuri.

Sekali Tidak Berhasil Bukan Berarti Gagal Selamanya.
KEBAHAGIAAN TAKKAN PERNAH BISA DIBELI DENGAN UANG.

BELAJARLAH DARI KESALAHAN ORANG LAIN.
kita Tidak Dapat Hidup Cukup Lama untuk
Mendapatkan Semua Itu dari Dirimu Sendiri.

"Smart People Learn From Their Own Mistakes.
Smarter People Learn From The Mistakes of Others.
A Champion is Someone Who AALWAYS TRY to Get Up Even When He/She Can't."

UBAHLAH APA YANG MASIH BISA DIUBAH.
TERIMALAH APA YANG MEMANG SUDAH TIDAK BISA DIUBAH.
HINDARKAN DIRI DARI HAL-HAL YANG
BERPOTENSI MENDATANGKAN PERUBAHAN BURUK.